Sabtu, 10 Maret 2012
Kata rahasia ini bukan
seperti yang anda pikirkan, saya hanya tidak mau menyebutkannya saja. Tapi swear, bukan bidang spionase atau
kegiatan mata mata apalagi teroris.
Saat itu, hari rabu pukul
09.00, kami memulai perjalanan menuju Cilacap, Jawa Tengah. Dengan mengendarai
sebuah mobil kecil nan imut ditambah menggemaskan (karena berwarna merah
jambu), si pinky nama panggilan mobil itu. Peralatan yang harus dipasang di
kapal Tanker sudah di bungkus dan disiapkan, dari jauh hari pun sudah loaded didalam si Pinky ini. Lama perjalanan diprediksi
sekitar 9 jam, dari sebuah daerah bilangan jawa barat namun tepat dipinggiran
ibukota. Saya tidak mau menyebutkan nama daerah tersebut karena anda pasti
berasumsi disana banyak tukang bubur. Hayoooo……Pasti dehh langsung tau????
Dari point start hingga
keluar jalan berbayar tidak ada kejadian yang bisa banyak diceritakan, selain
memang biasa biasa saja juga karena saya tidur. Hehe…
Namun setelah mulai memasuki
daerah Garut dengan spesifik nama Nagreg, mulai ada kejadian yang unik namun
tidak juga tidak biasa. Yaitu, RAZIA POLISI…
Sebenarnya sekitar +/-20Km
sebelumnya juga ada kegiatan semacam itu, namun kali ini Pinky disuruh ke
pinggir oleh beliau yang terhormat (ehemm). Tanya jawab klise terjadi, seperti
selamat siang pak, boleh liat aidi (baca : ID), lihat SIM. Lihat ke bangku
belakang dan menanyakan barang apa yang dibawa dan dijawab oleh kawan saya
hanya barang belanjaan berupa elektronik. Kemudian, disuruh menghadap ke kantor
pinggir jalan beliau tersebut yang pas saya lihat ada tulisan berwarna kuning
yang berbunyi “Warung Nasi Katineung”. Kawan saya dan beliau yang terhormat itu
terlihat bertukar pikiran sambil sesekali tersenyum. Kawan saya tersenyum serba
salah dan seakan tahu bakal kearah mana pembicaraan tersebut dan beliau yang
terhormat tersenyum seakan yakin akan mendapatkan tujuannya dan bersifat ingin
dimaklumi.
Singkat tulisan, selesailah
arena senyum senyum dan tukar pikiran mereka itu. Beliau tetap dengan
senyumnya, namun kawan saya dengan senyum seperti menyesali mengapa harus
terlibat tukar pikiran dengan beliau yang terhormat tadi. 50.000 rupiah adalah
hasil mufakatnya. Dengan alasan plat nomor polisi yang tengah bertengger di
hidung dan di buntut si Pinky adalah tidak asli. Entah apakah hasil diskusi
dari pengendara lainnya, dari motor hingga kendaraan umum, yang berjejer
terkena tukar pikiran paksa itu berakhir dengan kemufakatan yang sama atau
bahkan lebih.
Komentar dari kawan saya
adalah itu karena kurangnya sedekah saat ingin berangkat hingga dipaksa atau
terpaksa mengeluarkan sedekah kepada fakir miskin berseragam yang digaji tiap
bulan dan telah mengalami perbaikan gaji dibanding puluhan tahun sebelumnya
tersebut.
Selamat dari mulut harimau,
kami mencari tempat ibadah yang didekatnya ada rumah makan dan tentunya ada
kamar kecil. Biar bisa menjalani beberapa kegiatan yang berhubungan dengan
tempat tempat disebut dalam satu tempat kawasan. Sebenarnya, sebelum mencari
tempat dengan spesifikasi seperti tadi, kami bercanda agar ada satu tambahan lagi,
yaitu ada tukang duren. Jadi lengkapnya, kami mencari tempat untuk ibadah,
namun dekat dengan rumah makan, kamar kecil dan ada tukang duren disekitarnya.
Susah mungkin mencari tempat dengan detil seperti itu, namun selepasnya kami
dari makan, ibadah dan buang air baik besar maupun kecil, kami melihat Masjid yang dikelilingi bermacam
macam tempat makan dan makanan, ada WC umum air bersih dan yang hebatnya ada
tukang duren di pinggir areal masjid itu. Lumayan cukup bisa membuat kami
tertawa, ternyata ada tempat dengan spesifikasi yang sesuai canda kami,
mengingat kami ada dijalan yang menuju Jawa Tengah. Apalagi, kami melihat
jarangnya kendaraan yang berhenti untuk beristirahat, pasti jarang pula yang
berdagang.
Hingga tak terasa kami mulai
melihat gapura besar yang menandakan perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa
Tengah. Namun terasa perbedaan dari keadaan jalannya. Dari sebelum gapura
masuk, jalan masih terasa dan terlihat mulus namun setelah masuk gapura, mobil
yang kawan saya kendarai mulai bergoyang kiri kanan naik turun. Otomatis saya
dipaksa mengikuti pola goyangannya, kanan kiri turun naik. Dan saya baca
disekitar papan yang ada dipinggir jalan, dari papan iklan hingga papan yang
menerangkan bahwa bangunan dibelakang papan reklame itu adalah kantor pemerintahan
setempat, seperti kelurahan dan kecamatan, ternyata kami telah memasuki daerah
yang bernama Cilacap yang masih berbahasa sunda, atau tepatnya, menurut
penduduk setempat, daerah itu belumlah Cilacap namun Majenang. Whatever, kami
sudah ada di Jawa Tengah.
Sekarang tinggal mencari
pelabuhan kapal tanker yang ada di Cilacap. Yang ternyata masih sangat jauh.
Belokan dan lubang juga kubangan telah menemani kami sepanjang perjalanan ini
demi untuk melaksanakan misi rahasia. Misi yang saya tidak mau sebutkan, namun
bukan kegiatan spionase atau mata mata bahkan teroris apalagi melawan hukum.
Karang Pucung….
Kami sampai ke suatu daerah
yang bernama Karang Pucung. Berhenti sejenak, beli rokok, beli roti dan beli soft drink. Mungkin, dalam pikiran saya,
kami akan sebentar lagi memasuki daerah pelabuhan sandar kapal tanker. Malu
bertanya sesat dijalan, kami bertanyalah pada salah seorang pemuda berpakaian
kaos yang menandakan bahwa dia adalah salah satu personel Angkatan Darat,
kemanakah arah menuju pelabuhan Cilacap? Dia menjawab dan menjelaskan arahnya
yang masih jauh dan berliku liku lagi. Kami melewati Banyumas, seperti yang
kami baca tercantum di papan reklame pinggir jalan. Masih belum Cilacap…
Tidak seberapa lama, muncul
gapura yang bertuliskan huruf besar “KABUPATEN CILACAP”
Akhirnya……………………………
Tanya kiri kanan (lagi) untuk menuju pelabuhan sandaran kapal, kami melewati pasar. Isi perut terlebih dahulu, makan nasi dengan lauknya. Saya lihat ada gorengan yang kata tukang warungnya itu adalah Mendoan, ukurannya 3 kali ukuran mendoan pinggir jalan yang biasa saya beli di Jakarta. Mantap!!!
Ohya... Pasar itu namanya Pasar Sidodadi (CMIIW) dan lebih terkenal dengan nama Pasar Pucung. Kami menghubungi orang yang direkomendasikan untuk mengantar kami ke kapal Tanker yang akan kami pasang suatu Alat. Sedangkan saya menghubungi salah satu penduduk lokal yang kebetulan sudah saya kenal sangat baik. Orang yang dihubungi kawan saya sebagai pengantar menyuruh kami menuju tempat untuk pertemuan, sedangkan tempat tersebut tidak kami ketahui dimana letak dan arah ja;lannya. Untunglah, penduduk lokal yang saya kenal dengan sangat baik itu datang dan mengantar kami ke tempat yang dimaksud.
Hujan mengguyur sesaat kami akan berangkat, saya dan kawan saya ada didalam mobil, sedangkan kenalan saya mengendarai motor, kehujanan namun dia tetap bersedia mengantarnya. Terimakasih kawan.....
Kami bertiga akhirnya (lagi), sampai dan bertemu dengan penghubung kami.... Hujan tetap setia. Jam menunjukkan lebih dari pukul 9 malam. Penghubung kami bercerita tentang uji coba dalam kehidupan hingga uji coba Nuklir. Dari bintang suara yang dikerumuni gadis gadis geulis pisan hingga kesuksesan. Dari Nyi Roro Kidul hingga Nyai Lanjar. Dari ingin istirahat hingga harus on board saat itu juga agar tidak kepikiran terus sampai pagi bila kerjaan mengantar ini ditunda hingga esok pagi.
Baiklah..... Bila harus saat ini juga ditengah hujan gerimis harus naik dan memasang peralatan dan tidak bisa ditunda esok pagi, kami setuju. Motor boat sudah siap dan peralatan juga item pendukung pun sudah siap, kami meluncur membelah malam dan air menuju tujuan pemasangan. Kurang lebih satu jam perjalanan air...
Namun, ternyata kapal tersebut tidak atau belum ada di sandarannya, padahal konon kabarnya sudah bersandar di areal sekian. Terpaksa balik lagi dan ditengah perjalanan balik, hujan menggila dengan derasnya.... Kami menggigil dan basah seluruh jengkal kulit kami. Ujung jari sudah mengkerut keriput, entah dengan ujung yang lainnya. Namun saya yakin disuatu tempat di badan saya ini mengkerut kedinginan.
Saat hampir sampai ke dermaga boat, personil group Band...maaf... Maksud saya, personil dari kru motor boat itu menunjuk ke arah kejauhan dan berkata bahwa kapal tujuan kami baru saja masuk. Terpaksa, harus besok pagi pemasangannya, karena kapal itu setidaknya harus bongkar muatan menghabiskan waktu 3 hingga 4 jam, menurut personil motor boat yang kami tumpangi....
Selanjutnya, keesokan pagi harinya adalah kisah yang lain.... Kisah suntuk juga konyol karena kawan saya berjoged joged dengan mimik muka yang menjijikkan karena sukses menginstall peralatan.
Selain kisah itu, ada kisah yang tidak saya ceritakan secara detil. Kisah yang membuat sepi................
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar