Kamis, 14 April 2011
Fenomena yang sering terjadi di negara Indonesia ini adalah menjadi terkenal dengan cara yg sulit, unik, mudah dan atau aneh. Tapi, bukan ini yang akan diulas dalam postingan saya kali ini.
Sudah banyak pelaku tindakan yg telah disebut diatas yang kini menjadi tenar dan menikmatinya dengan menganggap bahwa itu adalah karunia dari alam dan Tuhan.
Ok....Mungkin itu benar (lagipula siapa yang tau kalau itu salah?? Hehe). Namun yang aneh dan lebih aneh lagi adalah ketertarikan massa atau khalayak yang terus menggembar gemborkan semua fenomena yang bisa dikatakan adalah hal yang biasa saja dan pasti (saya berani memastikan) ada banyak orang atau individu bahkan kelompok yang mempunyai keunikan, kelebihan, dan kehebatan masing2. Massa juga tidak bisa disalahkan secara mutlak, karena bila ini dirunut sampai ke titik yang mengarah ke siapa yang menyebabkannya, maka akan muncul sebuah kata "MEDIA". Baik yang di ikuti dengan kata 'cetak', maupun 'siar'.
Ya....
Merekalah provokator dalam fenomena ini. Dengan hanya latah menyiarkan orang yg komat kamit mengikuti nyanyian orang lain, dan menyiarkannya terus menerus yang seakan akan itu adalah kejeniusan dan bakat hebat, hingga perlu di beritakan. Mengulas kejadian aneh yang tidak didasari keilmiahan, hingga masyarakat awam menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang harus dipikirkan dan diperbincangkan dalam kehidupan sehari hari, karena apabila itu tidak, maka masyarakat ini merasa tidak up to date, ketinggalan jaman, bahkan kuno dan kuper.
"Media BERSALAH..!!" Kata teman saya yang menjabat sekdes, di salah satu desa yang meraih hadiah 1 Milyar di wilayah kabupaten Purwakarta, ketika datang ke rumah saya tiba tiba. Saya gemetar (jiahh....Lebay lu ahh).
"Harusnya itu dianggap angin lalu saja" tambahnya. "angin surga yang mampir kebumi dan menyejukkan penghuni bumi hanya untuk sesaat" dia membakar rokok putihnya sambil berkata. Saya melongo...(rokoknya cuma sebatang, saya gak kebagian). Dia menjelaskan, kenapa setiap ada individu yang belum terlihat bakat dan kehebatannya, media selalu menggembar gemborkan? Lalu apa guna reality show ajang penyeleksian bakat yang kerap diadakan di mana mana?(yang juga oleh media), yang menguras emosi, tangis, harapan, dan kesal. Yang sering dipakai sebagai tempat resmi menghina mencaci dan mengintimidasi dengan kata di depan ratusan bahkan jutaan tatap mata. Mereka yang berusaha berani bersaing, berani mengembangkan potensi, berani dihina, dicaci bahkan dianggap tidak mampu, tetap saja dijadikan tumbal tujuan dari Rating acara dan Rating stasiun TV semata. Namun tidak pernah dihargai sebagai individu yang jelas berusaha untuk tampil menjual bakat dan kelihaiannya. Media tidak butuh dan bahkan amat sangat tidak peduli sama sekali....... Suatu fenomena yang mulai ditanamkan agar masyarakat tidak usah menghargai jerih payah usaha orang lain oleh MEDIA.
Media hanya lebih mengutamakan segi pemberitaannya. Yang heboh, menggemparkan (menurut kriterianya masing masing, tentu), dan ringan namun dapat menyentuh langsung ketertarikan atau tawa atau heran atau takjub atau hanya sekedar senyum. Dan apakah anda tahu?? Ini ternyata adalah apa yang disebut sebagai "media disease syndrom" (istilah saya sendiri), sindrom penyakit media. Karena ini akhirnya menular menyebar ke media lainnya. Latah. Ikut ikutan. Rating. Percayalah, banyak orang yang punya ke ahlian atau bakat atau keunikan dan atau tingkah laku yang lucu juga, bahkan mungkin lebih dari yang mereka siarkan tersebut. Lalu apalah guna reality show ajang penyeleksian bakat itu?? Lebih baik pasang banner, spanduk, atau iklan layanan masyarakat yang menganjurkan anak, saudara, sanak dan kerabat kita untuk mengunggah semua potensi yang mereka punya di media media online. Di pesbuk, di kutube, di dwitter, atau dimanapun mereka bisa unggah rekaman mereka tersebut. Lalu beritakan secara sistematis dan bombardis dengan cara masing2. Tidak usah bersaing, dihina penampilannya, diintimidasi kata didepan jutaan pasang mata dan tidak usah capek melakukan hal yang layak uji secara berlainan agar diberi nilai oleh juri (yang juga fenomenalis). Setelah itu, tunggulah hingga media jenuh dengan berita korupsi, bencana alam, kriminalitas yang makin menjadi dan politik. Maka, Media2 frustasi ini akan korek korek tempat sampah (yang isinya unggahan anda) agar mendapatkan berita ringan tapi bisa diboomingkan. Maka, anda akan segera menjadi artis. Tenar dadakan. Lebih baik lagi bila disertai kisah hidup yang tragis, menyedihkan atau bahkan yang menyayat nurani kemanusiaan. Yang invalid tubuh tapi mampu menari hip hop dengan gerakan indah dan lucu. Yang gagu tapi bisa lipsync dengan mimik muka lucu dan menggemaskan. Yang idiot tapi dapat mengikuti kebiasaan gerakan orang orang terkenal. Atau apalah..... Saya yakin anda bisa berinovasi sesuai imaji yang anda mau. Mudah dan tidak perlu sms beratus kali, yang kadang menjadi kesempatan mahluk tertentu untuk menjadi donor dengan harapan merekapun akan ikut tenar, setidaknya di daerah wilayah sang peserta. Media, saya yakin berisi individu individu yang kompatibel dan kredibel di bidang masing masing. Yang S1 sampai dengan S3 (S200 kalau ada). Tapi seringkali kecolongan memberitakan hoax, lalu dimana integritas keilmuan anda?? Seringkali memberitakan hal yang disangkut pautkan dengan mitos bahkan agama, lalu dimana integritas moral anda?? Seringkali menyiarkan berita yang tidak berimbang, lalu dimana integritas manusia anda??? Seringkali memutuskan, mana yang harus diangkat agar tenar terus, dan mana yang akan diboikot agar nama dan ketenarannya padam, lalu dimana integritas jurnalistik anda?? Manusia.... Alasan yang anda keluarkan. "kami juga manusia" Lhaaa.... Lalu mengapa anda selama ini selalu menganggap diri anda superior?? Lebih hebat dari mahluk apapun. Memangnya kalian anggap kami apa?? Bukan manusia?? Kami lebih manusia daripada anda!! (penempatan kata 'daripada' yang baik dan benar). Kami tidak memikirkan rating. Kami tidak memikirkan berapa banyak yang terjual, ditonton, disaksikan dan difavoritkan. Yang jelas kami tidak minta duit dalam penyampaian berita yang kami tularkan dari mulut ke mulut (asal mula berita, namun masih efektif). Anggap kami manusia juga donk..!! Jangan anggap kami hanya target tumbal rating atau apapun istilah lain dari lembaga anda. Cukup beritakan saja, tapi jangan dengan sistem brain storming. Mencuci otak kami. Membodohi kami. Menyepelekan kami. Membingungkan kami. Menyakiti kami. Memecahkan kami. Memberangus kami. Menidak manusiakan kami. Atau, -kembali pada inti tulisan- ciptakan saja juri yang kompatibel, yang menentukan siapa pemenang dari unggahan sekian banyaknya itu dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Salam satu merah putih..!!
Ok....Mungkin itu benar (lagipula siapa yang tau kalau itu salah?? Hehe). Namun yang aneh dan lebih aneh lagi adalah ketertarikan massa atau khalayak yang terus menggembar gemborkan semua fenomena yang bisa dikatakan adalah hal yang biasa saja dan pasti (saya berani memastikan) ada banyak orang atau individu bahkan kelompok yang mempunyai keunikan, kelebihan, dan kehebatan masing2. Massa juga tidak bisa disalahkan secara mutlak, karena bila ini dirunut sampai ke titik yang mengarah ke siapa yang menyebabkannya, maka akan muncul sebuah kata "MEDIA". Baik yang di ikuti dengan kata 'cetak', maupun 'siar'.
Ya....
Merekalah provokator dalam fenomena ini. Dengan hanya latah menyiarkan orang yg komat kamit mengikuti nyanyian orang lain, dan menyiarkannya terus menerus yang seakan akan itu adalah kejeniusan dan bakat hebat, hingga perlu di beritakan. Mengulas kejadian aneh yang tidak didasari keilmiahan, hingga masyarakat awam menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang harus dipikirkan dan diperbincangkan dalam kehidupan sehari hari, karena apabila itu tidak, maka masyarakat ini merasa tidak up to date, ketinggalan jaman, bahkan kuno dan kuper.
"Media BERSALAH..!!" Kata teman saya yang menjabat sekdes, di salah satu desa yang meraih hadiah 1 Milyar di wilayah kabupaten Purwakarta, ketika datang ke rumah saya tiba tiba. Saya gemetar (jiahh....Lebay lu ahh).
"Harusnya itu dianggap angin lalu saja" tambahnya. "angin surga yang mampir kebumi dan menyejukkan penghuni bumi hanya untuk sesaat" dia membakar rokok putihnya sambil berkata. Saya melongo...(rokoknya cuma sebatang, saya gak kebagian). Dia menjelaskan, kenapa setiap ada individu yang belum terlihat bakat dan kehebatannya, media selalu menggembar gemborkan? Lalu apa guna reality show ajang penyeleksian bakat yang kerap diadakan di mana mana?(yang juga oleh media), yang menguras emosi, tangis, harapan, dan kesal. Yang sering dipakai sebagai tempat resmi menghina mencaci dan mengintimidasi dengan kata di depan ratusan bahkan jutaan tatap mata. Mereka yang berusaha berani bersaing, berani mengembangkan potensi, berani dihina, dicaci bahkan dianggap tidak mampu, tetap saja dijadikan tumbal tujuan dari Rating acara dan Rating stasiun TV semata. Namun tidak pernah dihargai sebagai individu yang jelas berusaha untuk tampil menjual bakat dan kelihaiannya. Media tidak butuh dan bahkan amat sangat tidak peduli sama sekali....... Suatu fenomena yang mulai ditanamkan agar masyarakat tidak usah menghargai jerih payah usaha orang lain oleh MEDIA.
Media hanya lebih mengutamakan segi pemberitaannya. Yang heboh, menggemparkan (menurut kriterianya masing masing, tentu), dan ringan namun dapat menyentuh langsung ketertarikan atau tawa atau heran atau takjub atau hanya sekedar senyum. Dan apakah anda tahu?? Ini ternyata adalah apa yang disebut sebagai "media disease syndrom" (istilah saya sendiri), sindrom penyakit media. Karena ini akhirnya menular menyebar ke media lainnya. Latah. Ikut ikutan. Rating. Percayalah, banyak orang yang punya ke ahlian atau bakat atau keunikan dan atau tingkah laku yang lucu juga, bahkan mungkin lebih dari yang mereka siarkan tersebut. Lalu apalah guna reality show ajang penyeleksian bakat itu?? Lebih baik pasang banner, spanduk, atau iklan layanan masyarakat yang menganjurkan anak, saudara, sanak dan kerabat kita untuk mengunggah semua potensi yang mereka punya di media media online. Di pesbuk, di kutube, di dwitter, atau dimanapun mereka bisa unggah rekaman mereka tersebut. Lalu beritakan secara sistematis dan bombardis dengan cara masing2. Tidak usah bersaing, dihina penampilannya, diintimidasi kata didepan jutaan pasang mata dan tidak usah capek melakukan hal yang layak uji secara berlainan agar diberi nilai oleh juri (yang juga fenomenalis). Setelah itu, tunggulah hingga media jenuh dengan berita korupsi, bencana alam, kriminalitas yang makin menjadi dan politik. Maka, Media2 frustasi ini akan korek korek tempat sampah (yang isinya unggahan anda) agar mendapatkan berita ringan tapi bisa diboomingkan. Maka, anda akan segera menjadi artis. Tenar dadakan. Lebih baik lagi bila disertai kisah hidup yang tragis, menyedihkan atau bahkan yang menyayat nurani kemanusiaan. Yang invalid tubuh tapi mampu menari hip hop dengan gerakan indah dan lucu. Yang gagu tapi bisa lipsync dengan mimik muka lucu dan menggemaskan. Yang idiot tapi dapat mengikuti kebiasaan gerakan orang orang terkenal. Atau apalah..... Saya yakin anda bisa berinovasi sesuai imaji yang anda mau. Mudah dan tidak perlu sms beratus kali, yang kadang menjadi kesempatan mahluk tertentu untuk menjadi donor dengan harapan merekapun akan ikut tenar, setidaknya di daerah wilayah sang peserta. Media, saya yakin berisi individu individu yang kompatibel dan kredibel di bidang masing masing. Yang S1 sampai dengan S3 (S200 kalau ada). Tapi seringkali kecolongan memberitakan hoax, lalu dimana integritas keilmuan anda?? Seringkali memberitakan hal yang disangkut pautkan dengan mitos bahkan agama, lalu dimana integritas moral anda?? Seringkali menyiarkan berita yang tidak berimbang, lalu dimana integritas manusia anda??? Seringkali memutuskan, mana yang harus diangkat agar tenar terus, dan mana yang akan diboikot agar nama dan ketenarannya padam, lalu dimana integritas jurnalistik anda?? Manusia.... Alasan yang anda keluarkan. "kami juga manusia" Lhaaa.... Lalu mengapa anda selama ini selalu menganggap diri anda superior?? Lebih hebat dari mahluk apapun. Memangnya kalian anggap kami apa?? Bukan manusia?? Kami lebih manusia daripada anda!! (penempatan kata 'daripada' yang baik dan benar). Kami tidak memikirkan rating. Kami tidak memikirkan berapa banyak yang terjual, ditonton, disaksikan dan difavoritkan. Yang jelas kami tidak minta duit dalam penyampaian berita yang kami tularkan dari mulut ke mulut (asal mula berita, namun masih efektif). Anggap kami manusia juga donk..!! Jangan anggap kami hanya target tumbal rating atau apapun istilah lain dari lembaga anda. Cukup beritakan saja, tapi jangan dengan sistem brain storming. Mencuci otak kami. Membodohi kami. Menyepelekan kami. Membingungkan kami. Menyakiti kami. Memecahkan kami. Memberangus kami. Menidak manusiakan kami. Atau, -kembali pada inti tulisan- ciptakan saja juri yang kompatibel, yang menentukan siapa pemenang dari unggahan sekian banyaknya itu dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Salam satu merah putih..!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar