Kamis, 15 Desember 2011
Lalu, ada pemenang Olimpiade Fisika, Matematika, Kimia, hingga Olimpiade Robotik yang dijanjikan mendapat beasiswa pendidikan yang ternyata sampai mereka lulus tidak ada beasiswa tersebut. Beasiswa tersebut hanya dilontarkan pejabat yang berwenang hanya untuk mendongkrak kepopulerannya dan hanya untuk menciptakan sensasi sesaat didepan Media (hmmm...pejabat yang bodoh).

 

 Ini hanya contoh kecil dari sekian banyak kasus yang serupa. Sungguh, Indonesia terdiri dari banyak individu cerdas. Masih ingat tokoh Lintang yang diceritakan didalam Tetralogi Laskar Pelangi? Seorang jenius yang pendidikannya kandas hingga hanya menjadi supir Truk bahan tambang timah didaerah Bangka Belitung.
 
Jangan tanya apa yang negara beri untukmu namun tanyakan apa yang kamu bisa berikan untuk negaramu karena jelas negara kita Indonesia ini sangat tidak peduli. Apakah hanya orang bodoh yang mempunyai uang sajalah yang memiliki negara ini?? Saya mempunyai teman bernama M.Romli yang saat di SMPnya bisa dibilang pintar, namun saat ada yang berniat menyekolahkan untuk masuk SMA, dia menolaknya dengan alasan tidak ada yang mencari uang untuk nafkah keluarganya sehari-hari, dan kini dia menjadi makelar jual-beli ayam setelah sebelumnya menjadi BRIMOB (Berig berig mobil = kejar kejar mobil alias calo terminal). Ini terjadi pada era pemerintahan presiden Soeharto yang kata sebagian orang adalah pemerintahan dengan harga murah dan ekonomi kuat.

Namun era reformasipun ternyata tidak berpihak pada rakyat miskin yang berotak cemerlang. Era reformasi hanya berpihak pada raja-raja demonstran yang kemudian menjelma menjadi politikus (poli = banyak, lebih dari satu; tikus = binatang pengerat yang merugikan). Dan hingga kini saat era 'bersama kita bisa'pun (entah bisa apa?), tetap saja kisah lama nan usang juga basi dan garing (pinjam kata-kata yang sedang ngetren dikompasiana) terus berulang. Tidak ada badan atau lembaga yang menampung para jenius bangsa ini. Apakah karena pemutar roda bangsa ini yang teramat bodoh hingga minder bila nanti dikemudian hari akan muncul cendikiawan dan cendikiawati yang menggantikan posisi mereka dan menjadikan negara ini bangsa beradab dan bangsa bertekhnologi tinggi hingga lebih suka untuk mewariskan bangsa ini kepada anak dan kroninya saja??
Jangan tanya apa yang negara ini beri padamu karena memang tidak akan pernah negara ini memberi apapun bila kalian miskin (walaupun kenyataannya orang miskin lebih banyak jumlahnya dibandingkan yang berharta namun mayoritas pendidikan hanya untuk yang berharta saja).
Apakah yang dipikirkan atau yang direncanakan para pemimpin bangsa ini untuk negara Indonesia dikemudian hari? Dan apa produk yang dihasilkan berbagai badan riset dinegeri ini yang bisa diterapkan ditengah masyarakat dengan tidak memakai dana tinggi?
Cuka kayu?
Tape?
Tempe?
Tahu?
Pupuk?

Baiklah, mungkin anda lebih mengetahui produk badan riset negara kita yang hingga saat ini masih efektif digunakan ditengah masyarakat. Namun, saat para peneliti yang budiman itu sudah menemui ajalnya dipanggil Yang Kuasa, apakah akan ada pengganti mereka yang lebih baik? Apakah sudah dipersiapkan sistem rekruitmen yang dapat menjadikan badan atau lembaga riset tersebut menjalankan fungsinya dengan baik dan menghasilkan banyak produk riset dari kajian sejumlah jenius (setidaknya orang pintarlah...) yang kemudian digunakan oleh masyarakat negeri ini??
 Atau jangan-jangan sistem rekruitmen yang berlaku di lembaga riset itu sama sistemnya dengan lembaga lain yang harus memakai uang muka atau dana pelicin...
Sungguh. Jangan pernah bertanya apa yang negara ini bisa berikan untukmu, jangan pula berniat. Kalian hanya akan membentur barikade aparat dan pejabat yang hanya jenius menggunakan bahasa Indonesia dengan cara memutar balikkan kata. Kalian hanya akan disodorkan kertas yang berisi data grafik naik turun yang entah darimana mereka dapatkan.

Ada pepatah yang saya dapat dari robot penjawab aplikasi chatting yang berbunyi ;
"Jangan pernah percaya pada data dan grafik yang dikeluarkan oleh pemerintah, apalagi bila data dan grafik itu dijadikan acuan untuk keberhasilan pemerintah dalam menjalankan programnya"

Sepintas saya bingung dan bilang sok tahu pada robot itu. Namun memang masuk akal pepatah itu, karena apabila pemerintah memperlihatkan data dan grafik untuk memperlihatkan tolok ukur keberhasilan kepemerintahannya, maka data dan grafik tersebut tidaklah mungkin akan menunjukkan kegagalan pemerintahannya. Propaganda yang menyesatkan bila terjadi demikian.
Banyak individu pintar bahkan jenius kita akhirnya hijrah ke negara lain dikarenakan jaminan pendidikan dan akomodasi hidup yang dimudahkan. Masih ingat pemenang Olimpiade Matematika (atau Fisika ya?? Saya lupa lagi...Heheh) yang susah mencari kerja dan dipandang acuh tak acuh hingga kemudian dia mendapat beasiswa dari luar negeri yang akhirnya mengamalkan ilmunya di negeri pemberi beasiswa tersebut? ( sakit hati kali yak?)

Apreasi pemerintah kepada prestasi anak bangsa itu hanya saat prestasi itu terjadi saja, saat peristiwa itu sedang hangat-hangatnya. Setelah itu tutup kuping, tutup mata, tutup mulut dan tutup hati (tutup panci dan tutupoli tidak termasuk). Lalu beberapa tahun kemudian akan muncul-lah berita yang mengiris hati para pembaca atau penontonnya yang memberitakan ada pemenang Olimpiade pengetahuan yang kini hanya berdagang koran atau baju ex-ekspor. Atau Juara Olimpiade penyandang cacat yang akhirnya tertangkap polisi laut karena menjadi pengebom terumbu karang di Papua. Atau kisah-kisah pejuang negeri ini saat zaman penjajahan yang ternyata berakhir tidak happy ending dan berujung hanya menjadi penjaga palang pintu kereta api dan itupun karena sukarela. Bukankah kata Bung Karno kita adalah bangsa yang besar hingga beliau berani berkata ;
"Amerika kita seterika, Inggris kita linggis, Malaysia kita ganyang"

Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya?
Ataukah bangsa kita ternyata adalah bangsa kecil yang merasa menjadi bangsa yang besar???

Sungguh tidak berharga pemberianmu pada negara ataukah sungguh sungguh tidak dihargai pemberianmu oleh negara?

Jangan tanya apa yang negara ini berikan untukmu namun tanyakan negara yang mana yang akan memberimu.


Semoga badai cepat berlalu kawan.........


Engkau tetap pahlawan

0 komentar: